3 Dec 2015

Jika mendengar kata toleransi, tak lepas dari masalah agama. Memang betul, toleransi sangat erat hubungannya dengan agama. Sejak kita sekolah dasar sampai SMA, mungkin kita sudah sering mendengar kata toleransi beragama di pelajaran pendidikan moral.

Toleransi atau toleran itu sendiri kalau menurut kamus besar bahasa indonesia adalah " Bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan ) pendirian ( pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya ) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Sederhananya kita menghargai perbedaan orang lain. Entah dari agama, suku hingga apa pun yang berbeda .

Di sini saya ingin menulis tentang toleransi beragama  dari sudut pandang islam yang menurut saya akhir akhir ini terkoyak dengan kejadian oleh segelintir orang yang merusak tatanan kehidupan bermasyarakat yang baik, yang ada di Indonesia ini.
Beberapa waktu lalu kita mendengar tentang kejadian pembakaran masjid di Tolikara papua. Terus ada juga pembakaran gereja di Singkil Aceh. Serta kejadian-kejadian yang serupa yang mungkin masih ada lagi tapi tidak di teliput oleh media. Ini dapat merusak kerukunan umat beragama yang ada di Indonesia yang sudah terbangun baik sejak dulu.

Saya sendiri sangat tidak setuju dan tidak membenarkan aksi kekerasan semacam itu. Dan agama islam tidak membenarkan aksi pengrusakan dan pembakaran rumah ibadah agama lain, meski pun dalam keadaan perang . Karena agama islam punya aturan yang jelas dalam berperang ( baca : https://id.wikipedia.org/wiki/Peraturan_perang_Islam ) . Jadi jika ada orang atau sekelompok orang islam yang melakukan pembakaran dan pengrusakan rumah ibadah orang lain, jangan salahkan agamanya, salahkan pelakunya.

Contoh mudahnya seperti ini ; seorang anak membunuh tetangga nya yang mencoba memperkosa ibunya. Secara hukum, si anak tetap salah telah membunuh. Tapi dia mempunyai alasan kenapa dia membunuh. Padahal ibunya tidak pernah mengajarkan anaknya untuk membunuh. 

Dalam hal pengrusakan dan pembakaran rumah ibadah pun seperti itu . Kita lebih banyak melihat dan meributkan "akibat", bukan mencari "sebab" kenapa terjadi kejadian tersebut. Parahnya lagi di tambah media yang kadang memperkeruh keadaan dengan memberikan informasi yang simpang siur , provokator dan bahkan memihak dan tidak netral . 

Kita ambil contoh pembakaran gereja di singkil. Apa betul umat islam tidak toleran terhadap agama lain sehingga mengakibatkan pembakaran gereja . Kalau betul agama islam tidak toleran, saya ingin mengajukan pertanyaan ; 

Berapa banyak gereja yang ada di indonesia yang di bakar dan di rusak sama orang islam?


Kejadian-kejadian seperti ini menurut saya seharusnya jangan terburu buru menyudutkan agama si pelakunya. Seperti yang sudah saya jelaskan di awal tadi. Islam sendiri tidak membenarkan pengrusakan rumah ibadah agama lain.

Kalau ada kejadian seperti ini, kita seharusnya tidak gampang terpancing. Cari "sebab" nya.  Lalu analisa dan menginvestigasi sebab kenapa itu bisa terjadi .

Banyak hal yang mungkin bisa menjadi penyebab kenapa kejadian itu bisa terjadi, contoh :
- Ada pihak yang ingin menciptakan lingkungan tidak kondusif antar umat beragama
- Ada provokator dan by design 
- Menyalahi aturan dan izin yang sudah ditetapkan
- Kurangnya koordinasi dengan wilayah sekitar .
Dan mungkin banyak lagi sebab-sebab yang mengakibatkan pengrusakan dan pembakaran rumah ibadah yang sering terjadi ini. 

Ada lagi kasus pendirian gereja GKI yasmin di bogor yang sampai saat ini belum selesai. Saya  bingung entah masalahnya dimana, sampai saat ini, kasusnya pun tidak selesai selesai. Saya sendiri tidak mempermasalah pembangungan rumah ibadah,  asalkan sesuai aturan dan ijin dengan warga sekitar.

Entah apa yang menyebabkan kasus GKI yasmin ini berlarut-larut .

  • Apakah pembangungan gereja GKI Yasmin belum ada izin dari pemda setempat. Kalo iya, kenapa tidak di izinkan dengan alasan tertentu .
  •  Apakah menyalahi aturan tata ruang kota atau gimana.
  • Warga di situ tidak mengijinkan pembangunan rumah ibadah di daerahnya. Alasannya apa?
  • Apa ada hal hal yang belum terpenuhi dalam izin pembangunan rumah ibadah seperti termakdub dalam SKB 3 menteri tentang pendirian rumah ibadah .
  • Ada manipulasi data data seperti ktp dan administrasi lainnya misalkan.

Harusnya pihak pihak terkait cepat tanggap dengan masalah ini . Biar tidak berlarut-larut . Agar tidak di tunggai oleh pihak pihak yang mengambil keuntungan dari kisruh seperti ini. Yang ujung ujungnya akan menyudutkan umat islam yang selalu di bilang tidak toleran sama agama lain.

Kalau misalkan umat islam tidak toleran, pertanyaannya, berapa gereja atau rumah ibadah yang ada di indonesia yang tidak di izinkan di bangun oleh warga sekitar atau umat islam yang ada di daerah situ.
Berapa jumlah gereja atau rumah ibadah yang ada di indonesia? Apa semuanya di persulit dan tidak di izinkan di bangun? .

Kalau tidak salah, pembangungan rumah ibadah formal nya kan harus ikut aturan SKB 3 menteri dan harus ada ijin dari warga sekitar ya?.

Kalau memang sudah ikut aturan dan warga di situ mengijinkan. Seharusnya tidak ada masalah lagi untuk melakukan pembangungan rumah ibadah. 

Tapi mungkin selalu ada kendala untuk pembangungan rumah ibadah di kelompok mayoritas. Makanya ada aturan SKB 3 mentri selain IMB tentunya.

Beda kasus misalkan membangun rumah ibadah di kawasan mayoritas se agama . Misal di kampung saya warganya mayoritas muslim. Dan di sana belum ada masjid . Terus ada tanah kosong atau ada warga yang tanahnya mau di sumbang kan buat pembangunan masjid. Saya pikir, kita tidak usah minta ijin ke semua warga dan mengikuti aturan SKB 3 mentri.  Otomatis warga akan setuju. Wong di situ mayoritas nya islam.

Begitu juga misalkan di kampung yang mayoritas non muslim . Warga situ tidak akan kesulitan membangun rumah ibadah nya dan tidak perlu minta ijin lagi ke seluruh warga setempat . Contoh nya  mau bangun pura di bali. Ya karena mayoritas di sana hindu, pembangungan pura tidak akan sulit dan mau berapa bangunan pun saya rasa tidak ada masalah .
Misalkan ladi di Manado atau NTT yang mayoritas kristen. Mau bangun gereja satu RT satu gereja pun, saya rasa tidak akan jadi masalah.

Yang jadi masalah adalah ketika misalkan umat muslim mau bangun masjid di kawasan mayoritas  hindu seperti di bali. Umat muslim di sana harus ikut aturan SKB 3 mentri, aturan pemda disana atau bisa juga harus berkompromi dengan warga sekitar untuk meminta ijin. Tidak boleh sembarangan bangun . Karena disana mayoritas Hindu. Pasti banyak hal yang harus di diskusikan.

Begitu juga misal mau bangun pura di kawasan kristen atau muslim.

Sebener ya disini kita harus memahami betul arti toleransi itu sendiri. Banyak aspek yang harus terpenuhi agar kita bisa mengerti apa itu bertoleransi yang benar. Jangan sampai kita mengatakan tidak toleran terhadap agama lain sebelum tahu sebabnya kenapa bisa itu terjadi . Bukan meributkan akbitnya


Islam tidak perlu di ajarkan lagi tentang apa itu toleransi beragama . Untuk hubungan antar manusia islam menjungjung tinggi toleransi.

Untuk urusan agama,bagimu agamamu bagiku agamaku .

Cukup iman dan agama yang jadi pembeda. Tapi bukan berarti bermusuhan dalam hubungan sosial.
Silahkan berbisnis, berteman, tolong menolong, saling mengasihi. Tidak ada larangan.


Jadi jangan ke balik balik. Alih alih mau bertoleransi ke teman yang beda agama, eh malah kebablasan. Kecuali kita ini penganut paham liberal yang bilang semua agama sama.

Jadi buat kita yang muslim, bertoleransi lah dengan batas batas kewajaran. Dalam hal hubungan sosial terhadap sesama.  Jangan sampai misalnya muslim ikut kebaktian , muslim makan babi karena nemenin teman non muslimnya ke restoran yang jual babi.

Atau non muslim ikutan sholat, orang hindu makan sapi. 

Itu bukan toleransi namanya. Yang jelas jelas dilarang yang berhubungan dengan keimanan , harusnya tidak dipaksakan . Itu bukan toleransi namanya tapi tololransi

Sekali lagi, cukup agama yang jadi pembeda. Hubungan sesama manusia tetap harus harmonis, damai dan saling mengasihi .

03 Desember 2015
Belajar hidup untuk hidup







0 comments: