31 Mar 2016

Setelah tumbangnya rejim suharto pada tahun 1998 yang berkuasa selama 32 tahun, media khususnya televisi seperti menghirup nafas segar. Setelah sekian lama terkekang dan memiliki ruang gerak yang terbatas dikarenakan intervensi dari penguasa yang melalu departemen penerangan untuk membatasi hak penyiaran dan mengontrol media massa.

Pasca orde baru, kebebasan dan arus informasi seperti air deras yang mengalir dari setiap sisi. Media televisi bermunculan dengan ragam siaran, konten dan informasi yang tanpa batas. Menyasar keberbagai elemen masyarakat baik  di kota maupun di pelosok desa. 

Sisi baiknya kita bisa mendapatkan informasi di dalam negeri maupun di belahan dunia lain tanpa ada batasan dan campur tangan pemerintah. Tapi sisi buruknya, informasi yang kita dapat tak selamanya informasi yang baik untuk kita konsumsi. Tak sedikit informasi yang menyesatkan, berpihak pada suatu golongan atau kelompok dan parahnya lagi informasi yang kita dapat kadang hanya berupa kebohongan belaka.

Ada Kutipan yang pernah saya dengar, " Siapa yang menguasai media akan menguasai dunia". Kutipan ini menurut saya benar sekali. Media mempunya peran yang sangat penting dalam menyebarkan informasi, pembentukan opini serta menguasai pikiran kita dengan konten-konten yang tanpa kita sadari bisa mempengaruhi dan menstigma pikiran kita sesuai dengan keinginan si penyampai informasi.

Diperparah dengan pemilik media di Indonesia rata-rata merupakan orang-orang partai tertentu.  

Sebelum Pilpres 2014  kemarin, hampir setiap hari, di stasiun televisi masing masing, mereka mengkampanyekan dan mempromosikan dengan terang-terangan si pemilik media untuk di jagokan dalam perhelatan lima tahunan ini.  

Media-media sekarang baik televisi, koran dan lainnya seperti kehilangan tujuan utamanya yaitu memberikan informasi yang bermanfaat,independen, jujur, sesuai fakta dan tidak berpihak. Yang kita lihat sekarang malah sebaliknya, media seperti corong dan perpanjangan tangan-tangan yang mempunyai kepentingan baik itu dengan penguasa atapun pengusaha. Salah satu contohnya mendukung salah satu kandidat capres yang marak sebelum pilpres 2014 kemarin.

Dibuku "Orde Media : Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru" , yang merupakan rangkuman dari berbagai tulisan yang dimuat oleh remotivi dan yang ditulis oleh berbagai orang ini sedikit mengulas tentang peranan media yang di bagi menjadi empat 4 bab antara lain: Praktik Jurnalisme, Text, Konteks dan Khalayak.

Dalam bab Praktek Jurnalisme ada 7 artkel yang dapat kita baca seperti Metro TV Effect karya Samiaji Wulandari, Politik Media dalam penyebutan 'Ical' atau 'ARB' karya Kamil Arif Arifin dan ada juga tentang reportasi karya Imam Wahyudi yaitu " Reportase( yang belum benar-benar) Investigasi.

Dibab kedua yaitu "Teks" ada 18 artikel yang dapat kita baca disana. Beberapa judulnya antara lain adalah : " Delusi Kick Andy", " Ada untung di balik tangisan", " Indonesia Lawyer Club: Kolonisasi Logika Televisi dalam Logika Politik" .Sedangkan Bab tiga berisi 9 Artikel dan bab terakhir "Khalayak" berisi 4 artikel.  

Buku ini sebenarnya berisi kritikan, sindiran dan masukan terhadap media televisi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memberikan informasi yang bermanfaat, positif , kredibel, independen dan membangun karakter yang baik buat bangsa. 

Akhir kata, buku ini sangat bagus buat kita yang awam dengan dunia media dan jurnalistik . Agar kita tidak termakan oleh opini-opini sesat dan jauh dari kebenaran yang dibentuk atau sengaja di hembuskan oleh media-media yang mempunyai kepentingan dan hanya mengejar dari sisi bisnisnya saja tanpa memperdulikan nasib bangsa dengan informasi-informasi yang menyesatkan.

Karena media orang jahat bisa terlihat baik
Karena media orang baik bisa terlihat jahat
Karena media orang biasa-biasa saja bisa terlihat luar biasa
Karena media orang yang luar biasa bisa terlihat biasa saja
Karena media maling bisa jadi malaikat 



Judul               : Orde Media : Kajian televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru
Editor              : Yovantra Arief dan Wisnu Prasetya Utomo
Penerbit           : INSISTPress
Cetakan           : Juni 2015
Tebal               : 296 halaman




1 comments:

Unknown said...

Terimakasih telah mengulas buku INSISTPress. Rehal buku ikut dilansirkan ke: http://blog.insist.or.id/insistpress/id/arsip/13332