12 Oct 2016

12:22 pm


Akhir-akhir ini kata kafir sering kita dengan dalam pembicaraan. Baik itu di media televisi,Koran ataupn social media. Ini ada hubungannya dengan pemilihan gubernur DKI yang sebentar lagi akan dilaksanakan.

Beberapa kalimat yang mengandung kata “Kafir” sering di sebut. Ambil contoh beberapa bulan lalu, jauh sebelum muncul calon penantang pertahana yang belum resmi didaftarkan ke KPU. Banyak bertebaran di social media, quote atau meme seperti “ Lebih baik pemimpin kafir tapi adil , dari pada muslim tapi zalim”.

Entah siapa yang mempropagandakan kalimat tersebut.  Padahal cagub penantang pertahana belum resmi diusung, baru sekedar muncul bakal-bakal calon gubernur yang pastinya belum tentu juga ikut dalam perhelatan lima tahunan ini.

Kita ambil contoh, ada nama Yusril, Risma, bahkan Ridwan kamil. Tapi kata kata ”Lebih baik kafir” ini sudah santer terdengar. Apa ini disengaja atau tidak kita tidak tahu. Tapi kata-kata tersebut seolah ingin membentuk opini bahwa pemimpin-pemimpin muslim ini tidak adil, zalim dan sebagainya.  Padahal banyak pemimpin-pemimpin muslim yang bersih, adil dan juror.  Belum ditambah heboh pengumpulan KTP plus foto-foto wanita berjilbab yang memegang tulisan “ Saya muslim, saya pilih blab la..bla” .

Yang sedang hangat saat ini adalah pernyataan salah satu calon gubernur yang pada saat kunjungan kerja lengkap dengan seragam dinasnya, tiba tiba bilang sesuatu hal yang sensitif menyinggung perasaan umat islam dengan berbicara “ jangan mau dibohongi pake surat Al Maidah 51” .  Polemik dan pro kontra pun terjadi, dan tak sedikit yang mengecam pernyataan tersebut.

Sebenarnya apa sih kafir itu. Kenapa kata tersebut seolah-olah begitu sangar dan  menyeramkan didengarnya !.

 Saya kutipkan arti kata kafir ini dari situ Wikipedia sebagai berikut ;  Kāfir (bahasa Arab kāfir; plural  kuffār) dalam syariat Islam adalah diartikan sesuai etimologi sebagai "orang yang menutupi kebenaran risalah Islam". Istilah ini mengacu kepada orang yang menolak Allah, atau orang yang bersembunyi, menolak atau menutup dari kebenaran akan agama Islam.
Dalam Al Quran sendiri pun banyak bertebaran ayat tentang arti kata Kafir itu sendiri, salah satunya adalah :

“Artinya : Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka;bagaimana mereka sampai berpaling?. Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” [At Taubah : 30-31]

“Artinya : Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata : ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. [Al Maidah:17]

“Artinya : Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga” [Al Maidah:73]

Bahwa orang yang telah menutup kebenaran Allah, menyembah selain Allah bisa dikategorikan kafir.  Dan kafir mempunyai beberapa kategori, salah satunya yaitu yang mengatakan Allah itu tiga dalam satu dan Allah itu Isa.  

Itulah kafir dalam agama Islam. Orang yang tidak percaya akan risalah Allah dan Rasulnya. Orang yang tidak mengimani dan meyakini kebenaran Islam . Jadi Kafir ini sebagai penanda dan pembeda bahwa seorang  yang mengimani Allah dan Nabi nabi yang diturunkan dari adam sampai Muhammad dan tidak menyekutukanNYA disebut Muslim dan selain itu disebut Kafir.  

Setiap agama khususnya agama-agama samawi seperti Yahudi, Nasrani dan Islam mempunyai definisi yang berbeda tentang orang yang tidak tidak mengimani kepercayaannya (tersesat).

Misalkan di dalam keimanan Kristen, orang yang tidak percaya bahwa Yesus itu tuhan, dia disalib untuk menebus dosa dosa manusia, maka dia sudah tersesat dan harus diselamatkan. Atau dalam kristennya disebut Domba Tersesat. Orang diluar non Kristen bisa disebut juga domba yang tersesat.
Ada juga di agama yahudi, orang diluar agama yahudi adalah Goyim (Non yahudi) .

Jadi kata Kafir, Domba tersesat maupun Goyim adalah penyebutan istilah dari tiap agama, sebagai membeda dari misalkan orang yang percaya islam  (Muslim) dengan Orang yang tidak percaya Islam (Kafir) atau Orang yang percaya Yesus tuhan (Kristen) dengan orang yang tidak percaya (Domba 

Tersesat) dan sebagainya.
Adalah keimanan setiap pemeluk agama,mengklaim dan menegaskan bahwa bahwa agamanya adalah kebenaran mutlak,  bahwa agamanya adalah yang paling benar dan layak masuk surga.   Itu semua sah-sah saja. Dan itu tidak ada yang larang.

Cukup dari sisi iman saja kita berbeda dan tidak bisa disatukan, tapi dalam hubungan sesama manusia ,harus tetap saling dalam harmoni saling tolong menolong, bertenggang rasa dan rasa berkasih sayang.

Misalkan kita masih bisa berteman, bekerja sama dalam bisnis dan pekerjaan, nongkrong bareng dan sebagainya.  Tak perlu merisaukan perbedaan akan agama dan keyakinan. Apalagi tentang istilah-istilah yang tadi sudah disebutkan.

Perbedaan keyakinan itu bukan untuk disatukan , tapi dirayakan dengan caranya masing masing, tapi dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat harus tetap bersatu dan menjungjung tinggi  nilai nilai kemanusiaan yang universal.

Jadi jika saya bilang ke teman saya yang Kristen, dengan sebutan kafir, itu bukan berarti saya membenci dia dan agamanya dia.

atau misalkan saya ditanya teman “Gw kan kafir, menurut lo agama gw salah ga?” , ya saya bilang “salah” , bilang salah tidak sama dengan benci. Salah ya salah, benci ya benci , beda. 

Begitu juga sebaliknya, teman saya boleh saja bilang saya domba tersesat dan agama saya salah. Silahkan saja, toh menurut kepercayaan dia memang seperti itu. Santai saja.

Tidak usah merasa tersinggung dengan sebutan kafir ataupun domba tersesat. Toh emang kenyataan seperti itu.  Kita memang harus dibiasakan untuk bisa merayakan perbedaan. Tak perlu memaksa untuk menyatukan perbedaan yang ada, cukup rayakan dengan cara masing-masing tanpa menyakiti dan menzalimi. Urusan iman kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan masing-masing.  

Kita umat muslim,diperintahkan oleh Allah untuk tetap selalu hidup bermasyarakat dalam hubungannya dengan manusia tanpa memandang agama,suku bangsa dan ras, membangun peradaban dan menciptakan kebaikan dan perbadamaian, serta berlaku adil .


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs Al Hujurat 13)


Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Maidah: 8).



0 comments: