26 Oct 2017


Matahari masih dengan mimpinya. Ayam masih terlelap dalam tidurnya. Temaran sinar dalam ruangan-ruangan rumah sudah mulai nampak. Gemerecik orang mandi pun bersautan terdengar .

Waktu Subuh sebentar lagi. Banyak yang sudah bersiap dan menyempatkan diri untuk pergi  sholat berjamaah dimasjid. Ada juha yang masih terlelap. Mungkin masih lelah setelah kemarin seharian bekerja. 

Azan subuh berkumandang,bersahut-sahutan. Merdu. 

Tak lama kemudian, sudah banyak orang-orang berlalu lalang menuju tempat kerjanya masing-masing. 

Berdesak-desakan di kereta, berlari mengejar bis kota, berkeringat, menahan kantuk. 

Rutinitas yang lazim dijalani oleh pekerja yang menggunakan moda transportasi umum ke tempat kerjanya. Mereka biasanya tinggal di daerah penyangga seperti Bogor, Bekasi. Tangerang. 

Rutinitas yang melelahkan, mungkin juga membosankan. Tiap hari melakukan hal yang sama. Berulang terus dari senin hingga jumat

Berangkat subuh pulang larut malam. Terkadang tak jarang yang sudah berkeluarga tidak sempat bertemu anak-anaknya. 

Saya meyakini, yang mereka lakukan adalah demi keluarga dan orang-orang tercinta. Demi anak-anaknya, demi orang tuanya, demi kehidupan yang lebih baik. Mudah-mudahan semua itu menjadi Ibadah dan Amal di Akhirat kelak. 

Sampai kantor ada yang waktunya diluangkan untuk sarapan, ada yang pergi berdoa dalam Dhuhanya, ada yang langsung bekerja. 

Waktu berlalu, dan tanpa terasa sudah mau mendekati jam 12 siang. Tiba waktunya untuk beristirahat. Perut dan otak meminta haknya untuk beristirahat. Lekaslah makan.

Hati dan Jiwa pun butuh disejukan dalam doa dan kekhusyuan. Sholat zuhur pun dilakukan. Ada yang ke Masjid , ada yang sholat di tempat kerja.  

Hak-hak mereka sudah terpenuhi. Waktunya kerja kembali. Semua larut kembali dalam kesibukannya masing masing.

Dua jam kemudian, azan berkumandang. Hati dan Jiwa perlu dijernihkan lagi. Dengan air wudhu, dengan doa-doa, dengan sholat. Ashar memanggil. Kewajiban patut dijalankan.

Ashar berlalu, berkutat lagi dengan pekerjaan, menunaikan kewajiban-kewajiban sebagai seorang pekerja.

Waktu pulang telah tiba. Ada yang langsung bergegas pulang dan sholat di jalan, ada juga yang menunggu azan magrib dan sholat di tempat kerjanya atau dimasjid terdekat. 

Diperjalanan pulang, mereka harus menghadapi lagi kemacetan, berdesak-desakan, berdiri lagi dikereta dan bis, hingga akhirnya menuju rumahnya masing-masing.

Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh anak-anaknya yang masih terjaga. Tapi tak sedikit dari mereka disambut oleh keheningan karena anak-anaknya sudah terlelap. Sedih, pasti. Tapi itulah perjuangan. Perjuangan yang mudah-mudahan tak sia-sia dan bisa bernilai ibadah. 

Badan telah letih dan mata sudah mengantuk. Tapi kewajiban kepada sang pencipta harus tetap dilaksanakan. Sholat Isya sebagai penutup untuk mengakhiri rutinitas hari ini. Beristirahatlah. Esok kita berjuang lagi. 

Sekelumit kisah  diatas adalah gambaran nyata tentang kehidupan pekerja yang berjuang memenuhi kewajibannya di dunia.

Sesibuk-sibuknya, sepenting-pentingnya pekerjaan kita, mudah-mudah kita tak lupa jika waktu sholat telah tiba.

 Sejenak tinggalkan dunia, penuhi kewajibanNYA. Berdoa dan bersyukur dalam sholat kita. 


Jika niat dan tujuan kita bekerja hanya sekedar mencari dunia dan melupakan bagian di Akhirat, maka, kita menjadi orang yang merugi. 

Bekerjalah, dan niatkan untuk ibadah dan menumpuk amal kebaikan. Penuhi juga kewajiban-kewajiban yang sudah ditetapkanNYA. Sholat salah satunya. 

Jangan sampai urusan dunia melalaikan akhirat kita. Toh pada akhirnya tujuan hidup kita nantinya akan bergerak kesana.

" Kerja itu hanya selingan, untuk menunggu waktu Sholat". Kira-kira begitu judul artikel yang pernah saya baca. 

Iya, anggap saja kerjaan kita itu selingan, untuk menunggu waktu sholat datang. Dua-duanya dapet. Semoga Allah Ridho.

Mudah-mudahan kita tak melupakan bagian kita di dunia dan tak mengabaikan bagian kita di akhirat. 


Bogor, 27 Oktober


"Belajar hidup untuk hidup"
#SelfReminder









0 comments: