11 Oct 2017


Akan kuceritakan sebuah kisah lampau tentang aku bersama  pecel ayam. Ceritanya begini, dulu, jaman madesu ( masa depan suram) ,begitu kira-kira ungkapan yang sering kita pakai untuk menggambarkan kehidupan yang super ga jelas. 

Kuliah sedang cuti karena tidak ada biaya, uang jajan distop, bukan karena apa-apa, tapi memang pada waktu itu orang tua pun sedang sulit-sulitnya dalam hal ekonomi. 

Yang saya lakukan saat itu adalah sekeras-kerasnya dan sesanggup-sanggupnya bekerja untuk mendapatkan uang.

Yang dari uang tersebut untuk menghidupi kebutuhan sendiri dan memberikan sisanya kepada orang tua. 

Dari mulai jaga wartel (Warung telekomunikasi), yang waktu itu mendapatkan gaji 150 ribu sebulan dipotong cash bon bisa sampai 100rb hahha, Lalu disambi dengan menjadi juri parkir di swalayan. ( Dulu sebelum ramai indo & alfa Mart). 

Kadang saking susahnya dan engga ada uang, jika kita ingin makan dan ga ada lauk, saya bersama teman pergi ke sawah untuk mancing belut. Hasilnya kita bagi goreng dan bagi dua. 

Teman saya pun ga jauh bedanya dengan saya. Sama-sama madesu dan susah. 

Ada menu makanan yang pada saat itu bisa dibilang sungguh-sungguh istimewa. Namanya Pecel Ayam. Untuk bisa beli ini butuh effort yang lebih, atau sedang ada rejeki nomplok ( dibeliin sama temen 😁 ) . 

Nah, yang menarik dari cerita ini menurut saya adalah, setiap saya membeli si pecel ayam ini, saya selalu minta sambelnya dua plastik. Sambal ini saya pakai satu saat makan saat itu, sisanya saya simpen untuk besok. 

Bukan hanya sambelnya yang saya simpen, ayamnya pun saya potong dua. Sebelah buat makan waktu itu, sebelah lagi buat besok. 

Dulu, saat sedang mengalami hal ini, rasanya sedih banget. Untuk dapat makan enak seperti ini pun kadang harus menunggu belas kasihan orang. 

Tapi kalau diinget dan diceritakan kembali pada saat sekarang, itu semacam pengalaman, teguran, cobaan hidup, bahwa dalam kehidupan ini apapun bisa terjadi. Salah satunya dalam hal perekonomian. 

Kisah ini semacam alert yang membuat saya untuk terus belajar bersyukur untuk nikmat, rejeki dan karunia yang sudah saya dapat.  " Bersyukurlah kepadaku, maka AKU akan tambah nikmatmu. 

Bahwa kehidupan ini seperti roda berputar. Jika kita ikut lentur didalamnya, mau dibawah ataupun atas semua indah. 


11 Oktober 2017

Commuter line (efek kereta gangguan) 
"Belajar hidup untuk hidup" 



Dari situ lumayan lah 

0 comments: