16 Oct 2017


Baru sehari pelantikan gubernur baru, warganet telah heboh membahas masalah pribumi. Pasalnya, dalam pidato pelantikan pelantikan tersebut, ada kalimat yang mengandung kata "pribumi".  Kutipan pidatonya kira-kira seperti ini 

Penjajahan di depan mata itu di jakarta, selama ratusan tahun.
Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh, tapi di Jakarta bagi orang Jakarta yang namanya kolonialisme itu di depan mata.
Dirasakan sehari-hari.
Karena itu bila kita merdeka maka janji-janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta.
Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan.
Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. 


Pro dan kontra pun terjadi. Ada yang menanggap itu suatu kata yang rasis. Ada yang berpendapat bahwa dalam pidato tersebut sedang menceritakan kontek sejarah kolonialisme. Tapi apapun itu, semua berhak berbendapat. 

Apalagi situasi masih panas-panasnya. Yang jagoannya kalah mungkin masih merasa kecewa dan tidak terima. Wajar saja. 

Didalam buku-buku sejarah yang pernah saya baca, kata pribumi tidak asing tertulis dalam setiap isinya.  Karena jaman masyarakat kolonial dulu , si penjajah membeda-bedakan penduduk menjadi 3: 
  1. Europeesch ( orang-orang eropa)
  2. Vreemde Oosteringen ( China, Arab, India , jepang ) 
  3. Inlander (pribumi )

Karena sekarang Anies Sandi sudah menjadi pejabat publik. Setiap perkataan dan perbuatan diperhatikan masyarakat banyak, harus lebih bijak dan arif untuk mengeluarkan statement yang mungkin sensitif. Apalagi sejak pilgub DKI 2012, polarisasi masyarakat semakin tajam antara yang pro dan anti. 

Ditambah informasi media yang semakin liar. Dari media partisan, buzzer-buzzer, dan bigot-bigot yang semakin membuat dunia social media semakin panas dan liar menanggapi isu-isu politik. 

Nikmati saja riuh dan gemerlapnya sosmed. Jangan baper apalagi sampe unfriend segala hahaha. 


17 Oktober 2017 

Sambil ngopi n ngerokok diparkiran 

" Belajar hidup untuk hidup" 



0 comments: