12 Oct 2017


Sebelum berbagi cerita, saya ingin meminta ijin dulu sama Mas Jaya Setiabudi buat judul yang saya buat ini. Judul cerita ini memang terinspirasi dari bukunya beliau yang memang sama yaitu "The Power of Kepepet". 

Kurang lebih buku ini bercerita tentang sebenernya potensi diri kita seperti pikiran, tindakan bisa kita lakukan secara maksimal dan tak terbayangkan jika dalam keadaan genting (kepepet). 

Mas Jaya Setiabudi sendiri sekarang sibuk membagi pengalaman dan ilmunya kepada setiap orang yang ingin membuka usaha. Entrepreneur Camp (ECAMP) dan Young Entrepreneur Academy adalah salah satu organisasi dan pusat pembelajaran yang beliau dirikan bersama teman-temannya. 

Beberapa tahun silam, saat saya lulus kuliah dan masuk kedunia untuk pertama kalinya. Disaat idealisme masih dipegang erat-erat, saya harus bekerja sesuai dengan apa yang saya inginkan dan saya cita-citakan.  Menjadi seorang programmer salah satunya. Karena berhubungan dengan bidang yang saya pelajari.

Lagi-lagi nasib berkata lain, harapan tinggal harapan, saya kalah dengan kenyataan dengan situasi yang mengharuskan saya untuk bekerja apa saja. Dapat uang, bisa membantu orang tua, itu sudah cukup. 

Singkat cerita, saya bekerja diperusahaan multifinance dikawasan elit Jakarta, Sudirman. Digedung yang mempunyai lantai 30an lebih, daerah yang strategis di dekat Semanggi.

Memasuki gedung tersebut dengan terkagum-kagum , celingak-celinguk , dan bingung bagaimana cara naik liftnya. 😁😂. 

Tiba diperusahaan tersebut langsung disuruh masuk keruangan untuk tandem sama seorang senior yang sedang bekerja. Tak..tok...tak..tok.. suara keyboard bersaut-sautan mengeluarkan bunyi yang paling merdu. Ternyata saya sedang di ruangan Scanning. 

Yaitu ruangan khusus orang-orang bekerja mengentry data . Dulu kalo lowongan dikoran dikenalnya EDP ( Entry Data Processing ) . 

Jari-jari mereka berlarian kekiri dan kekanan, lompat dari satu tombol ke tombol lain dengan kecepatan maksimal . 
Keesokan harinya saya bersemangat masuk kantor. Dan ingin mencoba hal baru yang saya dapatkan kemarin. 

Team Leader masuk, lalu breafing dan memperkenalkan karyawan baru. Waktu itu ada 4 karyawan baru yang masuk ke Scanning dan 1 diantaranya saya. 

Dalam breafing tersebut Team Leader, membagi jobdesc baru kepada timnya. Dan ternyata, saya tidak masuk dalam tim Data Entry. Saya dimasukan ke bagian Scanning & Attachment. 

Apa itu Scanning & Attachment pun saya tidak tau ngapain aja kerjaannya. Setelah breafing selesai, saya diperkenalkan sama temen dibagian S&A namanya Mas Eko. Dia senior disitu. 

Setelah dikasih penjelasan sama Mas Eko, tanpa panjang lebar, saya langsung  terjun dan bekerja.  Ada kata-kata yang masih saya ingat dengan jelas. Antara lain Batch, attach, Scan, gabungin, KBC, EMC, Gallery. 

Saya buka form aplikasi  kartu kredit dalam 1 Batch. Kalo enggak salah, 1 Batch itu isinya ada 20 aplikasi. Satu aplikasi terdiri dari dokumen-dokumen antara lain Foto Copy KTP, CC, Slip Gaji dan dokumen pendukung lainnya. 

Saya pisahkan dokumen-dokumen tersebut dari form aplikasi menggunakan alat yang wajib punya oleh seorang Scanning & Attachment yaitu stepless. Alat ini vital banget, karena salah satu jobdesc dibagian ini adalah, memisahkan dokumen dari aplikasi, lalu menscan ke alat scan, setelah itu digabungkan kembali antara dokumen dengan aplikasi. Lalu aplikasi yg sudah discan, digabungkan kembali dan diikat dalam 1 batch.

Jadi inti dari jobdesc di bagian Scanning dan Attachment adalah, membuka dokumen, scan aplikasi dan menggabungkan kembali. Bekerja sambil andeprok ( duduk dilantai dalam bahasa sunda), didepan kita adalah tumpukan-tumpukan aplikasi yang sudah dalam batch yang ditahu di bak mandi bayi yang model lonjong (kalo ga salah). 

Sambil menerima kenyataan, ngobrol sama rekan setim, tangan dengan gerak cepatnya memisahkan aplikasi dengan dokomen dengan mencongkel isi stepless yang sudah menempel sebelumnya, lalu menscan, dan setelah itu menggabungkannya kembali, Jegrek..jegrek... begitu bunyinya. 

Kerjaan sama hati kecil sebenernya saling berjauhan. Disatu sisi seorang mahasiswa yang baru lulus yang mempunyai idealisme yang tinggi untuk mendapatkan pekerjaan sesuai yang diinginkan, disisi lain, saya harus bekerja, mendapatkan uang untuk membantu keluarga saya yang ekonominya sedang sulit. Ayah yang sudah tidak bekerja, adik-adik yang masih kuliah dan sekolah, serta kebutuhan hidup yang menuntut saya harus kerja keras, mengesampingkan ego dan idealisme.

Setahun berlalu menjadi admin Scanning & Attachment, akhirnya saya dipindahkan kebagian Data Entry. Alhamdulillah dapet ilmu baru. Tapi, gaji sama aja ga nambah. Karena waktu itu sistemnya masih Outsourcing. Malah, 3 bulanf pertama masih Daily worker alias bayar harian, 20 hari kerja. Sehari kalo ga salah 50rb. Itu blm dipotong yang lain-lain. 

Berhubung ekonomi keluarga sedang kritis-kritisnya, biaya hidup banyak, adik-adik masih sekolah, saya harus cari cara untuk mendapatkan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 

Pas kebetulan kerjaan lagi banyak, dan TL memutuskan untuk mengadakan Shift 3. Oiya, waktu itu sistem kerja kita menggunakan shift. Shift satu dari jam 07: 00 sampai jam 14:00, shift dua dari jam 14:00- 19:00 kalo ga salah. 

Shift 3 ini dari jam 22:00 - 05:00 pagi. Dan ada uang tambahan untuk itu. Lumayan buat nambah-nambah. Setelah ikut shift 3, ternyata kebutuhan hidup masih kurang. Ada informasi dari seorang teman bahwa di BII ada lowongan untuk Data entry untuk beberapa bulan. Tanpa banyak mikir dan karena memang sedang membutuhkan, saya dan beberapa teman memutuskan untuk ambil kesempatan itu. 

Tak peduli kesehatan, tak peduli waktu luang yang hilang, pikiran saya waktu itu adalah , yang penting saya bisa bantu keluarga, bisa bantu adik-adik sekolah. Capek, letih, ngantuk terpaksa saya halau dulu. 

Bayangkan, malem kerja dikantor pertama dari jam 21:00 - 06 pagi, jam 09:00 harus udah ada dikantor yang kedua. Jam kerjanya dari jam 09:00-17: sore. Remuk redam badan ini. Kurang tidur, kurang istrirahat, tapi itulah pengorbanan. 

Merangkum cerita diatas dan saya sambungkan ke bukunya Mas Jaya Setiabudi, bahwa The Power of Kepepet itu memang luar biasa dasyat. 

Kita tak mengira bahwa kita mampu dan bisa melakukan hal yang sebelumnya tidak terpikirkan. Tindakan dan Usaha kita seperti terdorong dititik maksimal karena suatu alasan yaitu keluarga. 

Seperti analogi yang ada dibuku Mas Jay. Jika kita sedang berjalan, lalu didepan kita ada jurang yang menurut kita tidak bisa kita lompati, maka, otak kota akan merespon bahwa kita tidak bisa melompat jurang itu. Tapi misalkan, jika kita sedang dikejar oleh anjing dan didepan kita ada jurang, tanpa pikir panjang, kita lompat dan tenyata bisa.

Itulah kehebatan The Power of Kepepet. Dan sebenernya , potensi dan usaha kita bisa kita gali dengan maksimal jika kita bisa mempergunakannya dengan sebaik mungkin. 

Yang mau saya bagi dari cerita ini adalah, bahwa kita telah diberikan akal, pikiran oleh Allah SWT untuk dipergunakan secara maksimal dijalan yang diridhoinya. 

Jangan mudah menyerah, usaha,yakin dan tentu berdoa. Insya Allah semua bisa terlewati. 

Allah pun tidak akan kasih cobaan yang melebihi kadar kemampuan kita. 

Seperti anak kecil yang sedang belajar sepeda. Dia tidak punya pikiran dalam hatinya seperti, " ah sepertinya saya tidak bisa naik sepeda". Tapi yang dilakukan anak kecil adalah, mencoba dan mencoba lagi. Gagal coba lagi, jatuh bangun lagi. Semangat.

12 Oktober 2017

Masih di Commiterline Pagi dan Malam

" Belajar hidup untuk hidup" 





0 comments: