12 Nov 2017

Satu lagi kata yang sering berseliweran di status dan komen para netizen di facebook maupun twitter. Menurut hemat saya, ini juga salah satu olok-olokan politik yang ditujukan kepada gubernur yang baru. 

Ga berbeda jauh dengan olok-olokan seperti Kaum Bumi Datar, Kecebong dan lain-lain. Tapi yang ini objeknya langsung tertuju sama gubernur yang baru.

Kenapa bisa muncul olok-olokan seperti ini?, alasanya bisa bermacam-macam. Seperti misalkan :
  • Kekecewaan karena jagoan/junjungannya kalah dalam pilkada
  • Kebencian yang membabi buta kepada orang atau kelompok
  • Puber politik; maksudnya, semangat ngomongin politiknya tinggi tapi sekedar ikut-ikutan aja
  • Suka mengonsumsi berita yang belum jelas kebenarannya, spin dan framing media-media, hingga mengkonsumsi berita hoax demi memuaskan hasratnya. 
  • Terindikasi buzzer 
  • Dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. 
Yang bikin lucunya adalah, mereka-mereka ini sangat bersemangat sekali untuk kritik, nyinyir dan mengolok-olok kepada gubernur yang baru. Padahal belum genap 1 bulan gubernur ini dilantik dan bekerja.

Mereka-mereka ini kemana aja, apa udah melakukan hal yang sama kepada gubernur sebelumnya. Oiya, barangkali gubernur sebelumnya terlalu sempurna untuk di kritik, dinyinyirin dan diolok-olok. 

Janji-jajinya pun so pasti sudah dilaksanakan semua. Kebijakannya tentu sudah pro rakyat dan menguntungkan semua pihak. Jadi, yang diperlukan bukan kritik, nyinyir ataupun olok-olokan, tapi puji-pujian yang mengharumkan, bahwa ga ada yang lebih hebat dari gubernur gw yang satu ini. Bersih, jujur, bekerja. Pokoknya selain gubernur gw, ga bener dan wah gabener. 

Sebaliknya pun demikian, ada juga kelompok yang sebelumnya nyinyir, gubernur sebelumnya, sekarang tiba-tiba adem ayem. Sama aja sih. Mereka yang seperti itu hanya melihat figur, personal, bukan nilai.  Dua-duanya sama, benci secara berlebihan, cinta secara membabi buta. Akal sehat hilang.

Padahal mudah saja, mau siapa pun gubernur atau pemimpinnyanya, kalau perlu dikritik ya kritik, dinyinyirin, dan diingetin janji-janjinya. Kalau emang bagus, ya apresiasi. Simpel. 

Tapi mungkin netizen kita belum bisa masuk ditahap itu. Yang kita lakukan hanya terus meruncingkan polarisasi karena perbedaan pilihan politik. Saling ejek dan olok-olok. Jarak jadi semakin jauh dan meruncing. 

Kita, sebagai rakyat, oposisi sejati, sudah seharunya mengambil sikap, bahwa siapapun pemimpin dan pemerintahannya, selalu ada hal baik dan buruk. Tugas kita mengingatkan yang buruk dan apresiasi yang baik. Bukan hanya sekedar nyinyir dan olok-olok hanyak karena pilihan politik. 



Commuterline Bogor- Ps Minggu
13 Nov 2017



#DapetDudukTapiGaBisaTidur

Youtube : https://www.youtube.com/c/bebeksaurusid

"Belajar hidup untuk hidup" 







0 comments: