22 Nov 2017

10:18 pm
Kemarin di Mushola Stasiun Sudirman waktu mau ambil wudhu, disamping saya ada seorang bapak setengah baya. Berbaju lusuh. Dengan kaki, maaf, kurang sempurna seperti kita yang normal sedang berwudhu juga.

Saya duluan selesai berwudhu dan bergegas menuju mushola. Tak berselang beberapa lama, Si bapak yang tadi wudhu bareng pun masuk. Saya sempat memperhatikan sebentar. Dia membuka tasnya, mengambil baju untuk kemeja dan sarung untuk Sholat. Dan menukar baju yang dipakainya.

Ketika saya selesai sholat, beliau baru saja selesai mengganti pakaiannya dan ikut bergabung kedalam barisan untuk ikut sholat berjamaah. Selesai berdoa, saya sempatkan untuk merekam dan mengambil gambarnya ( mudah-mudahan beliau berkenan).

Diantara orang-orang yang sedang berjamaah dengan fisik yang normal dan sempurna tanpa kekurangan, hanya dia sendiri dengan keterbatasan fisik.

Yang membuat saya takjub adalah, dalam keadaan seperti itu, dia sempatkan diri untuk sejenak bersujud dan berdoa kepada sang pencipta. Kadang, kita dengan kelebihan dan kesempurnaan fisik yang kita miliki, sering abai dan meninggalkan perintah wajib ini.

Kita abai dengan panggilannya. Lebih memilih naik kereta dan tak sempatkan diri untuk memenuhi panggilannya. Berdalih ingin cepat sampai rumah. Atau bilang," ah entar keburu juga sholat dirumah", dan dalih-dalih lainnya.

Kita yang sempurna kadang lebih suka menyempurnakan diri dengan segala yang berbau dunia hanya untuk disempurna oleh sesama manusia.

Mungkin si bapak yang tak sempurna tadi sebaliknya. Beliau dalam ketidaksempurnaannya ingin terlihat sempurna, bukan oleh manusia, tapi oleh yang maha SEMPURNA.






Suatu pelajaran yang harus direnungkan.
St Sudirman 16 November 2017
"Belajar hidup untuk hidup "

0 comments: