10 Nov 2017

10:47 am
Kata "Kaum Bumi Datar" sering lewat di timeline Facebook saya. Juga dibeberapa komentar-komentar yang membicarakan tentang politik. Di twitter pun sama, kata ini sering sekali didengungkan akhir-akhir ini.

Saya penasaran dan bertanya-tanya, ini maksudnya apa sih ngomongin bumi datar. Ditujukan ke siapa sebutan ini. Akhirnya saya membuat status di Facebook.

Tidak beberapa lama kemudian, ada seorang teman yang berkomentar distatus facebook saya.

Status Facebook saya :

" Ini Maksudnya apa sih kaum bumi datar. Ditujukan kesiapa?".


Komentar-komentar:

Teman FB   : "Tanya sama pencetus bumi datar pak".
Saya :    " Iya,siapa pencetusnya? "
Teman FB :  " Tanya mbah google pak".
Saya    : Oke oke. Tar saya bikin tulisan tentang bumi datar deh.
Teman FB : Siyap..saya tunggu ya pak. jangan lupa sekalian kasih tau keliatan datarnya kalo diliat diujung  bumi bagian mana yak.

Dari situ, saya jadi tertarik ingin menulis dan mengetahui asal usul bumi datar yang sekarang sering diperbincangkan.

Olok-olokan politik

Sebelumnya saya tidak tahu pasti,dan hanya mengira-ngira saja, bahwa sebutan bumi datar ini ditujukan pada siapa. Lalu saya searching di google dengan kata kunci "Bumi Datar". Ternyata perkiraan saya benar, gelar bumi datar ini adalah semacam olok-olokan politik buat orang atau kelompok masyarakat yang kontra dengan pemerintah, bebal, anti fakta dan sebagainya. Yang melabeli biasanya orang atau kelompok masyarakat yang pro pemerintah. 

Memang, sejak pilpres 2014 lalu, polarisasi antar masyarakat semakin meruncing. Kubu-kubuan. Tambah meruncing dan semakin memanas saat pilgub DKI 2016 lalu. Masing-masing pihak saling serang, nyinyir hingga terkadang menyebarkan berita-berita hoax dan fitnah. Mereka mengklaim, kebenaran hanya dari pihak mereka.Pokoknya yang bersebrangan adalah salah. 

Menurut Muhammad Najib Azca seorang sosiolog Fisipol UGM yang saya kutip dari detik, salah satu penyebabnya adalah tentang kondisi masyarakat yang dihujani hoax dan saling olok dengan aneka julukan negatif. Selain bumi datar, ada istilah Sumbu Pendek, Kecebong, Bani Taplak dan lain-lain. 

Sebutan-sebutan tadi sebenarnya untuk menempelkan citra buruk kepada pihak lain. Ini tidak sehat dalam masyarakat yang beradab,pungkasnya.

Lebih jauh lagi, Najib mengatakan bahwa masyarakat dunia masuk dalam Post Truth Sociaty. Masyarakat mengalami tsunami informasi sehingga sulit menyaring informasi yang akurat. Post Truth Sociaty menurutnya adalah masyarakat yang tidak mementingkan fakta dalam proses komunikasi sosial. Preferensinya pada kesukaan,bukan kepada kebenaran. Hanya mengambil sikap hanya pada yang ia sukai dan yakini. Lebih memuaskan dimensi emosi dari pada rasionalitas. Lebih banyak digerakan aspek emosi dari pada rasio dan kognisi.


Kaum Bumi Datar menjadi olok-olok politik karena ada kelompok yang punya kemiripan sifat dengan Flat Earth Sociaty. Komunitas pseudoscience Flat Earth ini memang punya reputasi sebagai kelompok yang keras kepala dan antifakta. Yang akhirnya menjadi konsumsi politik untuk membedakan satu kubu dengan kubu yang lainnya.


Bumi Datar dan kitab suci


Sebelum ramai seperti sekarang ini, sebenarnya  istilah "Bumi Datar" ini pernah menjadi keyakinan sebagian masyarakat Eropa dan Gereja pada abad pertengahan.  Pada saat itu, masyarakat Eropa dan Gereja percaya bahwa bumi datar dan merupakan pusat tata surya, bukannya matahari. 

Adalah Galileo seorang ilmuwan yang mempunyai pandangan dan keyakinan berbeda, yang menyebutkan bahwa matahari lah sebagai sistem tata surya, dan bumi mengitari matahari. Bukan sebaliknya. Akibat pandangannya itu, ia dianggap melenceng dari keyakinan yang selama ini dianut oleh masyarakat maupun gereja pada saat itu. Dia diajukan ke pengadilan gereja Itali tanggal 22 Juni 1622.

Dia dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggal. Baru pada tahun 1992, Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu salah. Dan pada tanggal 21 Desember 2008, Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katollik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.


Hingga kini, perdebatan tentang bumi datar masih berlanjut . Baik yang pro Bumi Datar dan Bumi bulat mengklaim kebenarannya masing-masing. Mereka pun mengutip dalil-dalil dalam kitab suci untuk membuktikan keyakinannya. Kelompok bumi datar tak hanya didominasi oleh orang Kristen, Flat Earth Sociaty berkembang juga di sebagian kalangan Islam. 

Tulisan Robert J Schwadewald di The Bulletin of the Tychonian Sociaty #44 berjudul The Flat Earth Bible menjadi Dalil dan dasar argumen mereka. 

Banyak ayat Injil yang dikutip dalam tulisannya tentang klaim bahwa bumi itu datar. Antara lain adalah :

Daniel 4:10-11 
"Melihat sebatang pohon yang amat tinggi di tengah bumi… pohon itu tingginya mencapai ujung langit dan dapat terlihat dari titik bumi paling jauh "

Matius 4:8

Sekali lagi, iblis membawanya ke gunung yang sangat tinggi, dan menunjukkan kepadanya semua kerajaan dunia dengan segala kemegahannya

Wahyu 7:1

Dalil-dalil tersebut ditafsirakan dan dijadikan pijakan untuk mendukung klaim bahwa bumi itu datar.

Dalam sebagian kalangan Islam pun ada yang mengutip dan menafsirkan ayat-ayat Al Quran untuk mendukung klaim bahwa bumi itu datar.

"Yang telah menjadikan bagimu bumi, sebagai hamparan (tempat hidupmu), dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu (sebagai tempat ber)jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu, berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam." – (QS.20:53)

Dan Kami hamparkan bumi itu, dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata." – (QS.50:7)
Padahal tidak ada kata yang secara eksplisit menyebutkan bahwa bumi itu datar dalam Al Quran. Hanya ada kata “Hampar”.


Zaman Keemasan
Mundur lagi beberapa abad kebelakang, Bagdad di Irak dan Andalusia yang sekarang Spanyol, merupakan dua kota yang terkenal. Kota yang menjadi kiblat dan rujukan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan pada jamannya.   Zaman keemasan, zaman dimana peradaban Islam maju dan berkembang menjadi rujukan dunia.
Zaman dimana ilmu pengetahuan maju dan berkembang. Ilmuwan-ilmuwan Islam bermunculan yang memberikan kontribusi yang besar untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi setelahnya.

Dalam Ilmu kedokteran contohnya, ada Ibnu Sina, mengarang kanon kedokteran yang menjadi referensi berabad-abad dibidang kedokteran. Banyak yang mengatakan bahwa beliau adalah Bapak Kedokteran Modern.  
Al Khawarizmi seorang ilmuwan dalam bidang matematika, astronomi dan geografi. Dalam bidan matematika, beliau yang membuat konsep matematika yang kita kenal sekarang adalah Algoritma. Beliau juga yang menemukan angka nol dalam bilangan.
Ilmuwan-ilmuwan yang tak kalah pentingnya dalam peradaban islam dan mempunyai kontribusi besar dalam kemajuan jaman sekarang adalah Ibnu Haitham dibidang optik dan menemukan konsep kamera, Ibnu Rushd,  dan lain-lain.

Banyak pula Ilmuwan-ilmuwan muslim yang mempunyai peran besar dalam ilmu astronomi dan geografi. Yang menyatakan bahwa Bumi itu Bulat dalam beberapa penemuannya.  Mereka  antara lain adalah:

Al Biruni
merupakan matematikawan , astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan, dan menyatakan bumi itu bulat.

Berikut karya-karya Al-Biruni ialah:
·         Ketika berusia 17 tahun, dia meneliti garis lintang bagi Kath, Khwarazm, dengan menggunakan altitude maksima matahari.
·         Ketika berusia 22, dia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian proyeksi peta, "Kartografi", yang termasuk metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi pada bidang datar.
·         Ketika berusia 27, dia telah menulis buku berjudul "Kronologi" yang merujuk kepada hasil kerja lain yang dihasilkan oleh dia (sekarang tiada lagi) termasuk sebuah buku tentang astrolab, sebuah buku tentang sistem desimal, 4 buku tentang pengkajian bintang, dan 2 buku tentang sejarah.
·         Dia membuat penelitian mengenai jari-jari Bumi senilai 6.339,6 kilometer (hasil ini diulang di Barat pada abad ke 16).
Hasil karya Al-Biruni melebihi 120 buah buku.
Sumbangannya pada bidang matematika yakni:
·         Aritmatika teoretis and praktis
·         penjumlahan seri
·         Analisis kombinatorial
·         kaidah angka 3
·         Bilangan irasional
·         teori perbandingan
·         definisi aljabar
·         metode pemecahan penjumlahan aljabar
·         Geometri
·         Teorema Archimedes
·         Sudut segitiga

Al Battani

Ia lebih dikenal dengan panggilan Al-Battani atau Albatenius. Buah pikirnya dalam bidang astronomi yang mendapatkan pengakuan dunia adalah lamanya bumi mengelilingi bumi.
Berdasarkan perhitungannya, ia menyatakan bahwa bumi mengelilingi pusat tata surya tersebut dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Perhitungannya mendekati dengan perhitungan terakhir yang dianggap lebih akurat.

Itulah hasil jerih payahnya selama 42 tahun melakukan penelitian yang diawali pada musa mudanya di Raqqa, Suriah. Ia menemukan bahwa garis bujur terajauh matahari mengalami peningkatan sebesar 16,47 derajat sejak perhitungan yang dilakukan oleh Ptolemy.


Ini membuahkan penemuan yang penting mengenai gerak lengkung matahari. Al Battani juga menentukan secara akurat kemiringin ekliptik, panjangnya musim, dan orbit matahari. Ia pun bahkan berhasil menemukan orbit bulan dan planet dan menetapkan teori baru untuk menentukan sebuah kondisi kemungkinan terlihatnya bulan baru.
Ini terkait dengan pergantian dari sebuah bulan ke bulan lainnya. Penemuannya mengenai garis lengkung bulan dan matahari, pada 1749 kemudian digunakan oleh Dunthorne untuk menentukan gerak akselerasi bulan. Dalam bidang matematika, Al Battani juga memberikan kontribusi gemilang terutama dalam trigonometri. 

Masih banyak lagi Ilmuwan-ilmuwan muslim pada zaman keemasan Islam yang mempunyai kontribusi besar bagi kemajuan dunia dewasa ini.
Semua yang mereka ciptakan dan temukan bukan serta merta hasil pemikiran mereka. Mereka mengkaji dari berbagai sumber peradaban seperti Yunani, India,China dan Persia.  Yang pada akhirnya menjadi suatu penemuan dan ilmu baru yang bisa berguna bagi manusia.
Karena setiap peradaban seperti lari estapet. Selalu saling terhubung dan bekerja sama satu dengan yang lainnya. Saling melengkapi.
Jadi kesimpulannya, sebutan bumi datar yang akhir-akhir ini marak adalah sebenernya hanya olok-olokan politik seperti juga kecebong, bani taplak dan lain-lain.  Dan itu seharusnya dihindari, baik dari kubu A atau B. Sudah saatnya kita kritik dengan cara yang sehat dan benar. Tak peduli siapa pemimpinnya. Kita ini rakyat, oposisi sejati. Tak usah pilih-pilih jika ingin mengkritik pemerintah.
Bukan siapa yang memimpin, tapi nilai yang dikeluarkan, apakah berpihak kepada rakyat, apakah kebijakannya adil, dan lain-lain. Apresiasi secukupnya jika bagus, kritik jika melenceng. Cukup sederhana.

Bogor, 11 November 2017

“Belajar Hidup untuk hidup”

Youtube : https://www.youtube.com/c/bebeksaurusid 

Referensi:
Dari berbagai sumber.





0 comments: