16 Nov 2017

Anak saya suka sekali nonton film Adit Sopo Jarwo. Baik di televisi ataupun di Yotube. Mau tidak mau, saya dampingi dia saat dia nonton film tersebut.

Saya tahu film itu, tapi sebelumnya saya tidak pernah menyimak secara seksama ceritanya. Paling hanya selewat aja. Tapi, semenjak menemani anak saya, tak jarang saya menonton sampai habis. Dan saya mulai suka dengan film ini.
Sampai-sampai saya juga suka nonton sendiri di yotube jika ada waktu senggang. Menikmati alur cerita dan karakter para pemainnya.

Tokoh sentral dalam film ini antara lain Adit, Jarwo dan Sopo. Sopo adalah anak buah jarwo. Kemana-mana dia selalu ikut bosnya. Mereka bekerja serabutan. Tak jarang juga mereka suka membuat gaduh dan onar sekampung. Tapi sebenarnya mereka itu baik hatinya.

Adit disini sebagai anak komplek. Dia punya teman dikampung sebelah, namanya kampung Karet Berkah. Temannya antara lain Denis, Ucup, Mita, . Mereka bersahabat dan selalu bermain bersama-sama. Tak jarang sering cekcok dengan Jarwo dalam beberapa hal.

Selain itu ada juga tokoh-tokoh seperti Pak Haji Udin sebagai Pak Rw, Baba chan warga keturunan Tionghoa, juga anaknya Lie Mei seorang mahasiswa, Kang Ujang tukang bakso yang berlogat Sunda, Pak Anas yang berwatak keras dari sumatera Utara, hingga Ringgo yang bertubuh besar tapi suaranya kecil dari daerah Timur.

Adit adalah motor penggerak teman-temannya. Selalu memberi motivasi dan Inspirasi. Meskipun dia tinggal berbeda dari teman-temannya di kampung Berkah, tapi dia tak menjaga jarak dalam berteman.
Cerita yang ditawarkan menurut saya banyak mengandung pesan positif. Salah satunya dalam keharmonisan, tidak bersikap eklusif serta menonjolkan sikap toleransi yang tinggi.

Tokoh Adit contohnya, meskipun tinggal di komplek perumahan dengan ekonomi yang cukup mapan, sedang teman-temannya tinggal di perkampungan, tapi dia tidak menjaga jarak dan sekat secara sosial, dia berbaur dengan siapa saja, tak pilih-pilih. Ayah dan Ibunya pun demikian.

Lain lagi dengan Haji Ujin, Pak RW yang mempunyai keahlian bela diri, Bijak, Ilmu agamanya yang bagus serta Islami, mempunyai sahabat non muslim keturunan tionghoa. Mereka bersahabat dan akrab. Saling tolong menolong. Mencontohkan toleransi yang tak basa basi. Toleransi yang nyata. Toleransi yang bersifat sosial dan kemausiaan. Meskipun mereka beda suku dan agama.

Baba Chan sendiri tak kalah baik dan tolerannya. Dia memperkejakan Sopo dan Jarwo di warungnya, sering membantu dan menolong warga sekitar. Berbaur dan berkumpul tanpa menjaga jarak. Ikut berpartisipasi jika ada acara di kampung dengan ikut terlibat dan menyumbang sesuatu.

Lie Mei anak Baba Chan, seorang mahasiswa, Cantik, Ramah dan supel. Berteman dengan Adit dan teman-temannya. Sering membantu mereka membuatkan sesuatu.
Dalam kampung tersebut beragam suku dan agama berbaur menjadi satu dalam kehidupan bermasyarakat yang harmoni, tenggang rasa, saling tolong menolong dan mempunyai toleransi yang tinggi.

Gambaran ideal kehidupan bermasyarakat yang patut ditiru. Meskipun ini hanya dalam sebuah film. Tapi pesannya jelas.
Contoh kecil yang sempat saya perhatikan dalam film tersebut, ketika Pak Haji Udin mengucapkan salam secara Islam "Assalamu alaikum" saat Adit, Sopo , Jarwo sedang berkumpul di rumahnya Baba Chan, hanya Baba Chan dan Lie Mei yang tak menjawab salam. Tapi Baba Chan dan Mei Lin cukup tersenyum dan bersikap hangat kepada Pak Haji yang langsung mengajak ngobrol dan menanyakan kabarnya.

Saya pikir, ini contoh kecil yang tak harus dipermasalahkan karena mereka tak menjawab salam. Tak lantas harus dibilang intoleransi, atau tidak menghormati.
Dalam kehidupan yang sebenarnya pun demikian. Tak harus diributkan perihal hal-hal seperti itu. Tidak mengucapkan Selamat selamat natal salah satunya .

Tiap akhir desember, Pengucapan natal selalu jadi polemik. Diributkan dengan dalih tidak mengormati keyakinan orang lain, tidak toleransi kepada pemeluk agama lain hanya karena tidak ikut mengucapkan .

Memang dalam Islam, ada berbeda pendapat perihal ucapan natal ini. Tapi intinya, kalau memang yang bersangkutan memilih untuk tidak mengucapkan, itu bukan berarti dia tidak bertoleransi. Jika memilih untuk mengucapkan, itu juga hak mereka.
Begitu juga sebaliknya, jika Idul Fitri, jika tak ingin mengucapkan ya itu hak.
Muslim tidak makan Babi, yang non muslim jangan ngeledek.
Non Muslim beribadah dan bernyanyi, yang muslim jangan juga menertawakan atau mencibir. Begitupun dengan agama lainnya.

Karena setiap keyakinan agama, punya aturan dan tata caranya masing-masing. Tak perlu memaksa dan harus mengikuti jika itu bertentangan dengan keyakinannya.
Jangan sampai makn toleransi dipersempit dengan hal-hal seperti itu. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk bertoleransi terhadap pemeluk agama.

Toleransi yang bersifat sosial dan kemanusiaan. Tolong menolong dalam bermasyarakat, tenggang rasa, Membantu sesama dan berbaur demi kehidupan yang harmonis dan hangat.
Itu semua sudah dicontohkan dalam film Adit Sopo Jarwo. Toleransi dalam kemanusiaan dan sosial. Biarkan keyakinan kita beda, tapi dalam hal kemanusiaan kita harus sama, sama-sama saling tolong menolong dan mengasihi.

St Sudirman - Bogor
16 Nov 2017
youtube : https://www.youtube.com/c/bebeksaurusid

"belajar hidup untuk hidup"

0 comments: