14 Oct 2018

10:50 pm
Dalam beberapa kesempatan, sering berceloteh sama teman yang sedang mencari rumah. “ Cari rumah di Bogor aja bro”. Dia jawab, “ Engga deh. Jauh banget. Apalagi nanti naik kereta. Penuh banget . Ga kuat gw”. 


Buat saya atau sebagian orang yang sudah malang melintang di dunia per-angkeran, yang setiap hari, pulang pergi menggunakan transfortasi yg bisa dikatakan cepat dan murah, naik kereta bukan sekedar alat transfortasi semata. 
Naik kereta ada semacam pembelajaran, ujian serta kesabaran. Sama seperti hidup.

Naik kereta adalah seni. Seni dalam mencari peluang untuk mendapatkan tempat duduk. 
Posisi berdiri pun menentukan saat kita sedang menunggu kereta datang. Salah mengambil posisi, hilang kesempatan.

Selain itu, ujian kesabaran bisa kita tempa disini. Misal, sudah datang pagi, mata masih terkantuk-kantuk, tapi alangkah tidak beruntungnya. Kursi empuk yang diidam-idamkan, tak bisa kita raih karena banyak faktor. 
Kadang juga ada drama-drama saling adu otot dikarenakan gesekan dan saling dorong saat memperebutkan kursi panas.

Tak jarang juga saat berangkat terlihat rapih, keluar kereta sudah tak karuan. Pakaian yang basah karena keringat saking padatnya. Bau-bau yang menyengat beraneka rupa dan masih banyak lagi.

Kereta memang selalu punya ceritanya sendiri. 
Seperti hidup, selalu ada yang punya beragam masalah dan kebaikannya sendiri.

Hidup angker 
St Bogor
21 Sep 2018 
Kereta Bogor- sudirman jalur dua jam 05:50

0 comments: