18 Oct 2018



Mimin sedang bahagia. Hatinya berbunga-bunga. Jiwanya memeluk langit. Kemanusiaannya termuliakan. Itu barangkali yang sedang dia rasakan saat mendapatkan potongan kue pertama dari seorang presiden direktur saat ulang tahun kantornya dimana dia bekerja. 

Panggilannya mimin. Entah itu nama asli atau samaran. Orangnya energik dan percaya diri. Dia berkerja diperusahaan yang sama dimana saya bekerja. Kalau saya ditempatkan di head office, nah dia ditempatkan di cabang. Tepatnya cabang Fatmawati Jakarta. 

Menurut penuturannya, dia bekerja sebagai Office Boy dicabang tersebut. Dan sudah 4 kali berpindah-pindah dari cabang satu kecabang yang lain. 

Office boy sendiri salah satu unit kerja yang kerjaannya bisa dikatakan penting. Bagaimana tidak, mereka bertanggung jawab dalam kebersihan dan kerapihan kantor. 

Sebelum karyawan datang, mereka harus sudah datang dan menyiapkan segala yang ada. Dari merapihkan meja kantor, mencuci piring dan gelas kotor sisa kemarin, membersihkan lantai dan hal-hal lainnya. Setelah semuanya bersih, mereka menyiapkan minuman ke tiap-tiap meja. 

Setelah karyawan datang, tak sedikit dari kita yang minta dibuatkan kopi, teh hingga disiapkan makan dan minta dibelikan sarapan. Siangnya pun tak luput dari todongan kita. Berpuluh-puluh pesanan makan siang dia handle dan dia belikan untuk karyawan yang titip kedia.

Coba kita bayangkan sejenak. Bagaimana jadinya jika dalam perusahaan yang mempunyai karyawan diatas 100 orang tidak mempunyai unit kerja seperti Office Boy. Barangkali kantor tersebut sudah berantakan tak karuan. Kotor dimana-mana.  Bau menyengat dan  tidak menutup kemungkinan penyakit akan datang. 

Bersyukur dikantor kita mereka ada, siap membantu melayani kebutuhan setiap karyawan seperti yang sudah saya sebutkan tadi diatas. Tapi,kebanyakan dari kita sadar ga sih, meskipun itu sudah tugasnya mereka, penghargaan apa yang sudah kita berikan kepada mereka selain hal-hal berbentuk materi seperti uang tips saat menyuruh membelikan sesuatu?. 

Terkadang kita tanpa sadar memperlakukan mereka dengan sekehendak hati kita. Merasa mentang-mentang. Merasa kita lebih diatas mereka. Menyuruh dengan nada memerintah seperti,

“ eh, bikin kopi gw .” Atau

“ Tar ke meja gw”. 

Kalau mereka melakukan kesalahan kecil atau sedikit, tak jarang makian atau umpatan yang harus mereka terima tanpa bisa membela diri. 

 Banyak dari kita memang sering menghormati dan menghargai orang lain bukan karena nilai yang ada pada dirinya, tapi lebih dikarenakan karena pangkat yang disandangnya, status sosial yang melekat, hingga barang yang kita kenakan. 

Kita sering abai terhadap hal-hal yang mungkin bisa menyentuh jiwanya. Misalkan contoh saat kita mau pesan makanan, ada baiknya kita ngomong dengan sopan seperti

“ Pak maaf, nanti kalau ga sibuk boleh titip makan ga?”. Lalu ucapkan Makasih setelahnya. 

Atau, kalau kita ga sibuk-sibuk banget dan kita sedang ingin minum kopi, ga ada salahnya kita bikin dan seduh sendiri. Jangan bentar bentar suruh, bentar bentar perintah. 

Tanpa sadar kita telah membuat jarak kepada mereka. Membangun sekat berdasarkan kedudukan dan posisi kita. Berkomunikasi ketika kita membutuhkan saja. 

Mimin dan teman-teman yang lain sama seperti kita. Butuh dihargai, butuh lebih dari sekedar uang tips, butuh perilaku yang sepantasnya seperti kita memperlakukan karyawan lainnya. 

Saya menemukan sesuatu yang luar biasa pada saat menjelang pulang waktu outing di Cipanas tempo hari. Buat sebagian orang mungkin itu hal biasa dan soal kecil. Tapi saya menilai sebaliknya. 

Waktu itu menjelang pulang, di aula vila Pak Presiden Direktur memotong tumpeng untuk merayakan ulang tahun ke 36 perusahaan kita. Potongan tumpeng tersebut pertama kali diserahkan dan didedikasikan kepada seorang mimin yang sudah saya ceritakan diatas. 

Simple dan sederhana mungkin buat ukuran kita. Tapi, buat seorang mimin, barangkali itu hal yang sangat luar biasa. Pak Direktur selain telah memangkat harga dirinya mimin, beliau telah menyentuh jiwa kemanusiaannya.
Menempatkan mimin dalam sebuah kebanggaan. 

Mimin terharu. Mimin gembira. Lalu mimin berkata dalam pidato singkatnya, 

“ Teman-teman OB semunya, kita harus bangga dengan pekerjaan kita. Ga usah malu dan berkecil hati dengan apa yang kita lakukan,selama itu halal. Pekerjaan kita mulia loh.” 

Saya terharu. Disana, kemanusiaan mimin dimanusiakan, dimuliakan. 

Semangat mimin.

18 Oktober 2018
Tulisan untuk mengingatkan diri sendiri
#bebeksaurus #belajarhidupuntukhidup















0 comments: